Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 September 2015

Berpisah Untuk Kembali


Hari mulai berganti dan tak bisa kuhindari. Kalimat yang pas untuk menggambarkan keaadaanku saat itu setelah lulus kuliah (baca = wisuda). Euforia pesta kelulusanpun masih terasa dibenak dan dihatiku. Kesedihan dan kegembiraan menyatu tanpa memandang status sosial, jenis kelamin, dan perbedaan umur. Kesedihan yang kurasa ketika harus merasakan bahwa nanti akan berpisah demi meraih cita-cita, sedangkan perasaan gembira ketika usai sudah masa S1 dengan hormat, hehehe… (baca = pernah keluar dari S1 ketika belum wisuda).
Perpisahan kulalui dengan rasa haru biru dan akupun tak bisa menahan air mataku yang aku anggap mahal ini. Tetesan air mataku menandakan waktu senang-senang, waktu foya-foya semasa kuliah telah usai. Mereka yang selalu menemaniku semasa itu adalah Rully, Dwi, Andi “Eng”, Dicky, Puji, Miftah, Rizal, Agung, Anas, Zudy, Wawan, Tofa, dan teman yang lainnya yang tak bisa kusebutkan satu persatu. Mereka ada ketika aku sedang sibuk dengan skripsiku, hehe..sebenarnya agak payah juga tapi entah kenapa tak ku jadikan beban, malahan mereka yang menemaniku saat suntuk tiba.
Kebersamaan yang selalu kami jalani di manapun kami berada akhirnya harus terpisahkan sementara waktu karena kami harus meraih cita-cita. Aku yang sudah mendapat pekerjaan sebelum wisuda harus mencari pekerjaan lain karena keraguanku tinggal di Kalimantan. Sedangkan teman-temanku yang lain masih mencari pekerjaan di bursa pekerjaan atau saat Job Fair. Setelah aku timbang-timbang dan aku pilih-pilih, aku memutuskan untuk bekerja di Kalimantan. Aku tak pernah tahu keadaan yang sebenarnya seperti apa karena memang belum pernah sama sekali menyeberang pulau. Aku memutuskan untuk ke sana karena salah satu pertimbanganku adalah menaiki pesawat pertama kali. Ini adalah alasan bodoh dan tidak memikirkan risiko yang lebih jauh lagi.
Singkat cerita, aku pulang ke Sidareja dengan perasaan senang karena bertemu dengan ibu, bapak, keponakan, kakak dan yang lainnya. Sekitar 10 hari aku berada di rumah dengan berbagai kegiatan yang ada. Aku merasa menikmati kegiatan yang ada, seperti mencuci piring, membantu bapak dalam proses merebus kedelai dengan jumlah banyak, dan banyak kegiatan lainnya. Hari terus berganti hingga pada akhirnya aku harus berpisah dengan mereka. Perasaan hancur, sedih, dan gelisah menjadi satu, karena tidak ada perasan gembira sediktpun yang menyangkut di hati. Ibu menunjukkan kesedihannya karena air matanya terus bercucuran seiring perpisahan kita. Kemudian bapak yang jarang sekali aku melihat menangis hanya menitip pesan “ati-ati ya, jaga diri baik-baik”. Suaranya terlihat rintih dan sendu. Aku tau itu dalam banget ketika bapak memberi nasihat kepadaku. Aku tak bisa menahan air mataku di dalam keramaian karena saat itu aku berangkat ke Solo dengan berkereta api. Aku selalu memabayangkan wajah orang tuaku di setiap perjalananku menujuju Solo. Hal ini pertama kalinya kami harus berpisah lebih jauh karena aku harus berada di pulau yang berbeda, Kalimantan Timur. Aku percaya bahwa perpisahan ini bukan berarti berpisah selamanya, melainkan untuk kembali dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga serta sahabat. Salam semangat!

Kincir Airku


Selasa pagi, sudah aku prediksi sebelumnya kalau hari bukan hari yang membosankan bagi anak muridku. Sebenarnya prediksi ini bukan tanpa dasar, melainkan dengan dasar dan perencanaan yang matang. Aku membuat perencanaan pembelajaran sejak hari Senin, dari mulai membaca dan mempersiapkan media pembelajaran yang baru dan menarik untuk anak-anak. Berkaitan dengan tema energi, aku mengunduh video kincir air sebagai pembangkit listrik bagi rumah-rumah di suatu desa, PLTA dan PLTU. Aku berharap mereka kenal dan memahami betapa pentingnya air bagi kehidupan manusia, salh satunya mampu menggerakan turbin kincir air. Aku tak lupa untuk berbagi motivasi dan inspirasi pada sebelum aku memutarkan video, aku memberi semangat kalau mereka mampu membuat kincir air yang mampu menyalurkan listrik ke rumah-rumah.
Waktunya tiba, mereka tak sabar untuk berkenalan dengan kincir air. Menit demi menit berlalu, antusiasme tak pernah padam oleh keriuhan kelas sebelah yang juga belajar dengan berbagai media pembelajaran. Akhirnya, akupun melakukan evaluasi untu mengingat apa yang mereka lihat di video. Sungguh luar biasa ketika mereka mampu berkhayal dan ingin membuatnya di rumah mereka dengan air selokan. Aku menjawab dengan senyuman dan tiga kata special, “kamu pasti bisa!”. Setelah mereka mempunyai gambaran tentang air yang mampu menggerakan turbin dan menyalurkan ke generator untuk membangkitkan listrik dari tidurnya, aku mengajak mereka untuk membuat kincir air sederhana. Bahan yang aku dan murid-muridku pun terbilang sederhana. Aku hanya membawa bahan gabus, tali pancing dan kawat, sedangkan mereka mencari botol bekas di belakang sekolah. Alatnyapun sudah ada di sekolah, ada cutter, gunting, tang gegep, dan solasi. Langkah kerja untuk membuat kincir air sederhana ini aku ambil di buku tema. Pekerjaan ini dilakukan kelompok, ada yang tiga anak dalam satu kelompok, dan juga dua anak dalam satu kelompok. Pemandangan yang sangat menarik ketika mereka berdebat dengan teman satu kelompoknya dan membagi tugas satu sama lain. Dinamika ini yang akan membawa mereka ke proses yang lebih dewasa suatu saat nanti. Aku hanyalah fasilitator muda yang perlu belajar dan belajar setiap hari agar anak muridku mampu bermimpi, karena mimpi itu tidak sulit untuk dilakukan.
Kincir air telah dibuat dengan hasil keringat mereka masing-masing, rasanya puas dan senang hari ini bisa bekerjasama dengan mereka. Kemudian, dibawalah kincir air ke dekat toilet sekolah, mereka berebut untuk mengalirkan air ke kincir air, terlihat bahwa beban yang mereka ikat ke kawat penyangga turbin terangkat ke atas dengan cepat. Hal ini membuktikan bahwa air merupakan sumber energi yang mampu menggerakan turbin sederhana. Semoga mereka mampu mempraktikkannya dikemudian hari dengan segala pengalaman, pengetahuan dan keberanian  yang mereka tanam sejak sekolah dasar. Salam semangat!

Pasar Malam Area Perkebunan Sawit


Pasar malam  adalah tempat di mana tempat penjual dan pembeli berinteraksi, salah satunya untuk bertransaksi barang dengan uang. Layaknya pasar malam di daerah Jawa Tengah, pasar ini tidak hanya menawarkan barang-barang obral, tetapi juga menyediakan wahana permainan menarik untuk anak-anak. Pada umumnya pasar malam di daerah Jawa Tengah hanya sebagai pelepas dahaga dan bukan sebagai tempat utama untuk membeli suatu barang. Berbeda halnya dengan pasar malam di daerah perantauan, khususnya di Kalimantan Timur, lebih khususnya di area perkebunan sawit. Pasar malam di area perkebunan sawit benar-benar memenuhi kebutuhan utama bagi masyarakat sekitar. Jauhnya akses pasar tradisional menjadi salah satu faktor bagi masyarakat di area perkebunan sawit untuk berbelanja dan memanjakan diri di pasar malam. Ada beberapa kebutuhan yang ditawarkan di pasar mala mini, seperti sayuran, pakaian, kelontong, perlengkapan rumah, serta banyak lainnya. Pasar malam ini beroperasi setelah para karyawan menerima gaji dari perusahaan.
Pasar malam di area perkebunan sawit sudah menjadi suatu kearifan lokal yang tidak bisa lepas dari kehidupan para perantau dan pendduduk sekitar. Barang yang murah dan akses yang mudah menjadi sebab mengapa masyarakat tetap mengunjungi pasar mala mini. Suatu kearifan yang patut di budayakan dan dilestarikan, karena dengan adanya pasar malam juga menambah jaringan dan menjalin silaturahmi antarmasyarakat.

Menyisir Barak


Hari itu Kamis, 11 Desember 2014, aku dan kawan-kawan guru berkunjung ke barak beberapa siswa di sekitar Gunung kudung, Kecamatan Bengalon, Kutai Timur. Mengapa Barak? Barak itu area pemukiman untuk karyawan perusahaan PT. Anugerah Energitama. Barak ini benar-benar memperihatinkan karena bangunan non permanen dengan bahan dasar kayu berdiri tegak untuk melindungi setiap keluarga dari teriknya matahari serta badai air yang sering menerpa daerah Gunung Kudung. Hal yang biasa untuk sebagian besar karyawan yang notabene berasal dari Sulawesi kata pak Qomar, Sopir sekolah kami.
Aku benar-benar perihatin dengan keadaan mereka, apalagi siswa yang berada di sana benar-benar sangat kekurangan perhatian, terbukti ada salah satu siswa yang di sana dipukul dan dicaci oleh orang tuanya. Bayangkan ketika mereka makan, mandi, minum, dan belajar. Dengan segala keterbatasan mereka masih bertahan hidup. Aku sangat malu dengan keadaan mereka, mereka dapat bertahan hidup dengan ceria. Setelah beberapa menit berkunjung, Kepala sekolah kami mengajak beberapa anak untuk kembali ke sekolah, dan membujuk orang tuanya untuk mengarahkan anaknya dengan baik. Kemudian, kami berdalih ke tempat lain dengan harapan baru, semoga mereka tetap semangat belajar.

Jauh dari barak, kami beranjak ke arah Wahau. Kami tiba di tempat salah satu anak kelas 1 yang orang tuanya broken home. Setelah beberapa menit kepala sekolah kami dengan segala kepiawaian berbicaranya, kami menuju tempat anak kelas II, yaitu anak didikku. Sayang sekali orang tuanya tidak ada, karena pergi ke Wahau. Anak ini sangat memperihatinkan karena keluarganya tidak jelas, orang tuanya bercerai dan tidak tahu asal usulnya. Anak mereka yang dikorbankan. Sebenarnya anak ini pintar, tetapi karena kurang perhatian jadi aktifnya minta ampun, mungkin lebih condong ke kurang terkendali. Tugasku agak berat untuk mendidik dia, tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin karena aku tulus mendidiknya dan anak-anak yang lain. Dia tidur semaunya dia karena tidak mempunyai tempat tinggal yang jelas.

Setelah beberapa menit ngobrol dengan kakaknya kami beranjak pulang dan mampir ke tempat salah satu anak didikku lagi. Dia bermasalah dengan belajarnya, karena saat belajar di sekolah, dia belum bisa membaca. Selanjutnya aku berinteraksi dengan ibunya. Ini pengalaman baruku untuk berbicara tentang perkembangan anak didik. Wahhh…amazing menurutku, karena pendidikan orang tuanya itu SD jadi pemilihan kata juga harus sederhana. Setelah beberapa menit saya ngobrol dan kami pulang dengan oleh-oleh pisang dari salah satu wali muridku. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Berkah dalem

Jumat, 23 Mei 2014

Keluargaku Inspirasi Dari Intisari Perjalanan Hidup


Keluarga adalah anugerah. Anugerah yang Ia berikan pada umat-Nya harus selalu kita jaga dan sayangi. Taburan doa untuk keluarga menjadikan keluarga kita semakin berpangku erat menjunjung nama-Mu Tuhan Yesus. Terima kasih Engkau telah memberikanku sebuah keluarga yang hangat, keluarga yang demokratis, masing-masing bahu membahu untuk bertahan hidup. Aku tahu tidak mudah untuk Ayah dan Ibuku membangun keluarga kecil ini untuk berhati besar. Untuk itu aku sebagai anak, harus dapat menjaga keseimbangan dinamika dalam keluarga. Wajah serta senyuman dari Ayah, Ibu, Kakak dan adik keponakanku selalu menyertaiku dalam perjalanan sebuah intisari perjalanan hidup. Tuhan berkatilah keluargaku agar selalu beriman kepadamu Tuhan Yesus. Amin



Berserahlah Dengan Sakral


Aku mau share tentang mukjizat Tuhan Yesus yang Ia berikan padaku saat ini ketika aku berserah pada-Nya. Mungkin kalian berpikir mukjizat itu yang seperti pada zaman Musa, semua serba mustajab dan ajaib. Tidak kawan, mukjizat bisa dalam bentuk apa saja tergantung bagaimana kita menafsirkan dan merasakan. Aku berkuliah di PGSD UKSW semester 8 saat ini. Aku berkewajiban menyelesaikan skripsiku, karena memang sudah waktunya. Ya, aku mempunyai dosen pembimbing yang kritis dan membuat aku merasa tertantang. Hari-hari aku lewati dengan banyak membaca jurnal dan mengerjakan bab demi bab bagian skripsi. Perpustakaan dan kamar kost adalah tempat paling nyaman untuk mengerjakannya. Seiring berjalannya waktu, halang rintang menghadang tanpa ampun. Godaanpun tidak sedikit yang bermunculan. Agenda yang ada bukan hanya mengerjakan tugas akhir semata tetapi tanggungjawab moral yang lebih besar dan aku anggap penting bagi hidupku. Aku berkomitmen untuk melakukan semua dengan segala pengorbanan. Skripsi yang ada di depan mata akhirnya aku tinggal sementara untuk menyelesaikan agenda-agenda lain yang aku anggap penting. Aku mengambil keputusan ini bukan tanpa pergumulan, aku banyak bercerita pada Tuhan Yesus dengan sakralnya. Aku meminta ketenangan dan kedamaian agar aku selalu berpikir positif tentang segala keputusan yang aku ambil. Ya, Tuhan Yesus selalu memberikan jawaban atas doaku dengan banyak cara. Pertama, dengan segala kerisauan, aku masih diberi ketenangan walau pada awalnya selalu mengeluh. Kedua, kuliah sajapun tidak cukup unutuk membekaliku berjuang di dunia luar yang lebih kejam, itu pikiranku di dalam keresahan. Ketiga, aku masih dapat menulis mencurahkan isi hati, mengebiri jiwa menembus cakrawala. Keempat, aku masih punya semangat untuk menyelesaikan skripsiku.
“My soul, wait in silence for God alone, for my expectation is from Him. He alone is my rock and my salvation, my fortress. I will not be shaken. With God is my salvation and my honor. The rock of my strength, and my refuge, is in God. Trust in him at all times, you people. Pour out your heart before Him. God is a refuge for us.” (Psalms 62: 6-9)
“Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang sebab dari pada-Nyalah harapanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah. Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi htatimu đί hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.”

Tuhan, aku tahu, Engkau memberikan mukjizat dalam banyak cara dan banyak kesempatan di manapun berada, tanpa memandang status sosial. Aku tahu ini mukjizatmu agar aku lebih dewasa menanggapi banyak masalah. Rasa syukur ini aku aturkan dalam nama Tuhan Yesus Yang mendiam di Kerajaan Surga, Amin.

Senin, 19 Mei 2014

Perjalanan 7 Sahabat Pelangi ke Negeri Ngapak

Berawal dari kejenuhan yang dialami oleh mahasiswa UNS dan UTP semester 4 dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang lancar kuliah, dapat beasiswa, ada yang bolos terus dan ada juga yang sibuk organisasai, serta sibuk pacaran. Pertama ada Yosep Heri Kristianto alias gundul tapi dulu sempat gondrong,haha..nyooooh..! aku berasal dari Cilacap, kota keren, kaya kamu,,iya kamu..haha

Heri (Yosep) 

itu aku beberapa tahun yang lalu, sedikit alay dan sedikit menjijikan,karena jarang mandi,haha...program studiku Pendidikan Bahasa, Satsra Indonesia dan Daerah 2008. Calon guru sastra maaaan.....yang gak kesampean, karena suka bolos dan ngegame tiap hari!
Kedua, ada Muhamad Durun Nafis. Nama religius dan memang religius orangnya. Dia seorang rohaniawan yang suka pacaran dan suka berorganisasi. Kalau diajak untuk berdiskusi lewat game selalu ngelak karena alasan pacar dan organisasi, peace bos! Dia kuliah di Fakultas Ekonomi 2008 bukan ekonomis lho,,, Dia berasal dari Kudus, Kota jenang,wahaha..ini dia orangnya:

                               Nafis

lihat fotonya, pasti kalian akan tertarik dengannya karena kegantengan dan ketajaman matanya,haha..
Ketiga, Pembudi namanya. Iya, cukup Pambudi tak ada yang lain. Dia ahli sejarah karena belajar di program studi Sejarah. Tindak tanduknya seperti artefak, ya tahu sendiri ahli sejarah tak akan lepas dari perihal masa lalu dan melegenda,hahaha. Cara menyampaikan sesuatu juga berbelit-belit dengan bahasa khasnya yaitu ngapak,haha. Pambudi berasal dari Cilacap kota ngapak. Ini dia orangnya: 

Pambudi 
Keempat, ada siapa ya? ini dia jawaranya Sragen, kita sambit....Dedi Computeeeer,haha...Dedi calon politikus karena kesehariannya berkuliah di Fakultas FISIP 2008, ngeri tooo..calon Bupati Sragen. Seorang calm yang lugas tanpa beban, dan dermawan. ini dia bro ded:
Dedi 
Kelima, seorang termasyur di keluarganya dan lingkungan rumahnya, ada Budi Fermasyah. Budi alias Abude alias budi koplak mempunyai ciri khas yang berbeda dengan yang lain. Kalau sedang monolog itu lho, orang-orang yang mendengar pasti tertawa, bukan karena isinya yang lucu, tapi karena gak ngerti ngomong apa, itu yang bikin ngakak, ra cetho kowe bud! Budi kuliah di UTP jurusan olahraga 2008, tapi karena kurang betah kuliah di UTP akhirnya dia resign dari peradabannya, heheh..aku kasih fotonya nih....


 Budi
Budi yang ceria yang membingungkan,haha..ampun bud!
Keenam, lelaki ngapak juga yang berasal dari Banjarnegara. Artisnya TATV, gak percaya? coba nanti kenalan sendiri,haha. Dia bernama Endow Firza ediwindra. Kesehariannya tukang aduk semen, karena kuliah di Teknik Sipil 2008. Tapi passion'y ke nyanyi kayaknya, tiap hari menyanyi dari kampung ke kampung,haha...alias tarkam..Endow perayu yang handal, sekali nyanyi cewek-cewek bakal nempel terus, jangankan cewek,cowok pun ngikut,waaah...hebat bener! haha..nih aku gelontorin fotonya:


Endow
Endow si penyanyi gak ngerti di foto lagi ngapain, yang penting happy to ndoow.heheh
Ketujuh, si koplak dari tanah ngapak juga, dari sudut merah kita lihat saja, ada Andry Sutikno, dia berasal dari Binangun, Kroya. Entah kenapa dia suka dipanggil Sticko. Sutikno = Sticko, terlalu mengkhayal brooo..si kocak yang berasal dari Kroya ini adalah playboy cap kampung, di mana-mana gonta ganti cewek terus kaya ganti baju, haha..sang Alchemist ini kuliah di Program Studi Pendidikan Kimia 2008. Keahliannya meracik ramuan, menjadikan dia sebagai dukun bayi di desanya. Langsung saja gak pake lama....

 Sutikno
Kejenuhan yang tak kunjung surut dengan aktivitas yang padat membuat kami merencanakan untuk tamasya. Setelah melakukan beberapa rapat dan sidang terbuka akhirnya tertuju pada sebuah konsensus yakni, pergi ke tanah barat, yaitu Cilacap. Sembari bersiap-siap, nafis dan Endow mendendangkan beberapa lagu.

 Endow dan Nafis

Kami memang dipecah menjadi 2 kelompok. Kelompok dari Timur yaitu  aku, Nafis, dan Endow, sedangkan Pambudi, Budi, dan Sutikno masih menunggu di rumah (Cilacap)sebagai kelompok ang dituju. Kami berencana naik kereta api tanpa tiket, ide gila ini berasal dari Heri karena setiap PP Solo-Cilacap jarang membeli tiket, jangan ditiru ya! akan tetapi usul yang bagus dan indah tersebut ditolak mentah-mentah oleh si Nafis, Endow dan Dedi, mungkin jam terbang mereka yang belum banyak tentang kongsi-kongsi di dalam kereta,hehe..
kami tiba di Stasiun Jebres pada pukul 10.30, Rabu, 3 Februari 2010 kami langsung membeli tiket kereta api Pasundan Surabaya-Kiara Condong dengan harga yang cukup murah, hanya Rp 21.000,-. Menunggu adalah hal yang biasa, sembari menunggu kereta datang, kamipun sedikit bergaya di stasiun.

Stasiun Jebres, Solo


Dedi, Nafis, dan Endow sedang bergaya layaknya artis terkenal


Ini diambil di Stasiun Jebres, Solo di belakang kereta api yang tidak beroperasi.

 Dedi, Heri, dan Endow


 Ketidakjelasan

Akhirnya kereta Pasundan datang tepat pukul 11.00. Kami naik kereta tanpa ragu dan mencari tempat duduk yang kosong. Kereta ekonomi yang identik dengan bau keringat, kentut, ayam, makanan, parfum, campur aduk menjadi satu adalah menjadi pengalaman yang berkesan buat teman-teman. Kemungkinan di daerah mereka tidak ada kereta api jadi mungkin istimewa,haha!
Tempat dudukpun kami sambangi dengan penuh ceria. Dengan keluguan ketiga tamanku itu, duduk saja hati-hati sekali, mungkin baru pertama, emang bener to? 
Beberapa jampun kami lewati, walaupun dengan raut yang lelah kamipun tetap lewati dengan canda tawa.


 Tertawa seringai getir, haha

Perjalanan sekitar 7 jam terlewati bersama, akhirnya sampai juga di stasiun Sidareja. Stasiun Sidareja adalah salah satu stasiun di Daop 5 Purwokerto.

             bukti kalau sudah sampai Sidareja,,hehe


Sidareja di mana aku lahir, dan besar sampai SMA. Sidareja adalah salah satu kecamatan di Cilacap bagian barat. 

nunggu jemputan

Setelah 15 menit, jemputan dari bapak dan kakakku tiba. Kami tak sabar ingin sampai rumah, karena 7 jam di kereta membuat badan terasa pegal dan lengket,haha...
Sesampai di rumahku, suguhan teh hangat dan mendoan buatan ibukku terasa pas melengkapi liburan kami. Ibuku kan salah satu pembuat tempe di Desa tempat keluargaku tinggal. Lumayan lah bisa buat makan sehari-hari. Dedi, Endow dan Nafis ketagihan makan mendoan buatan ibuku, hehehe...jelas, kapan-kapan lagi cuy!
nunggu giliran mandi

 Nafis bergaya di depan rumahku


 Mendoan
Setelah bercengkrama dan mandi, malamnya kami menuju ke sungai dekat ruamah. Maaf ya teman-teman, jalanan dekat rumahku memang tidak ada lampu, jadi ya gelap-gelapan!
setelah ngobrol tidak jelas arahnya, kamipun pulang...
Keadaan capek dan pegal merayu kami untuk tidur. Pagipun tak ingin kalah untuk kami sambangi. Aku sebagi tuan rumah seharusnya membangunkan temaan-teman, eh..malah sebaliknya..aku yang bangun lebih lama, di bangunkan teman-teman. Seperti biasa teman-teman, Ibuku sudah membuat sarapan...taraaaa...! semua serba kedelai,hahaha

Sayur kering dan tempe, tahu goreng
Sebenarnya aku ingin ajak teman-teman ke Pengandaran, tapi lain waktu saja, karena kami sudah ditunggu sahabat kami yang ada di Cilacap Timur, Adipala namanya. 

 Numpang eksis di sepeda tua

 
 Bersiap berangkat ke Adipala

Jalan kaki menuju Halte Bus Sidareja



Sesampainya kami di halte, bus yang ditunggu akhirnya datang dan menyambut kami. Tanpa pikir panjang, langkah kaki beranjak ke dalam bus menuju Cilacap Tengah. Bus yang kami gunakan adalah bus trayek Pangandaran-Cilacap. Kami duduk di bagian paling belakang, entah kenapa tempat duduk paling belakang adalah tempat favorit bagi kami kamu adam,haha...
"Mas, mau ke mana?" tanya kernet bus.
"mau ke terminal Cilacap mas" jawabku.
"Rp 50.000,- mas" kata bang kernet.
"temenan mas? kira2 lah,,larang temen" tanyaku.
"ya memang segitu maas, itu sudah harga pas" lontar bang kernet
"Rp 40.000,- aja mas, kita belum kerja masa mahal banget, haha (gak nyambung" jawab teman2
"ya sudah, boleh..." jawab kernet dengan senyuman kejam.
Mahal sekali tarif dari SIdareja ke terminal Cilacap, mungkin aku yang tidak pernah naik bus jika ke terminal, karena kebiasaanku naik kendaraan bermotor, lebih irit coy!
Perjalanan yang berkesan karena jalanan jelek, penumpang yang berdesak-desakkan dengan aroma wangi jambannya, beraaaaat!
Akhirnya, sampai juga di terminal Cilacap, tempat transit di mana kami akan menuju Adipala, rumah Pambudi dan Budi.
Kami selanjutnya menggunakan bus tanggung menuju ke Adipala. Singkat cerita, kami sampai di terminal Adipala. Kami sampai di Adipala jam 11.00, waktu di mana di area area Cilacap sangat panas dan membakar kulit, akan tetapi semua terbendung karena semangat kami yang menggebu-gebu,hehe..
 
 menunggu jemputan di terminal Adipala


Mulai jenuh, sabar bos,hehe


lama coy

Setelah beberapa jam kami menunggu...munculah mobil carry. Kami dijemput layaknya raja, maklum yang punya mobil itu anak sekretaris camat, hahaha. Bud..bud,,,jadi sopir sementara kami yaa..
Rumah pertama yang kami tuju adalah rumah Pambudi. Rumah Pambudi berada di Kuadran V, di daerah Cangkring, nama yang aneh Pam, yeaaa..haha

 Suguhan dari emak Pambudi

Suguhan yang istimewa dari emak Pambudi. Ada jenang, teh panas saat cuaca panas (kata orang tua tu segar coy, hahaa), emping dan air putih. Habis juga tu minum, tapi jenangnya masih tertata rapi di piring, tidak apa ya Pam,hehe


 Istirahat cantik,haha

 Nunggu makan, haha

Lagi-lagi ketidakjelasan kami memuncak, sudah panas, ngantuk, lapar, ya begitulah campur-campur kaya karedok, haha. Kami sebenarnya menunggu satu manusia ajaib dari daerah sebelah. Ada yang tahu? si alchemist yang menjijikan, hahaha...Sutikno aja ya, kalau Sticko terlalu ndeso, haha..Ya, Sutikno..manusia kentut ini memang sedang ditunggu karena kami memang selalu kompak manusia ngapak. Sidareja-Adipala-Kroya-Banjar, selalu mendominasi warna-warni kehidupan anak kost di Solo, jadi yang orang Kudus dan Sragen kudu ngikut, hehehe...Akhirnya yang sudah ditunggu-tunggu datang, manusia ajaib ini langsung berulah, baru datang sudah kentutin semua...Lahir dari telinga kayaknya tu anak, gilanya gak ketulungan. Kami berenam memang bertujuh memang berbeda, tetapi kalau ada Sutikno, dominan gilanya buat suasana tambah edaaaan..hahaha..akupun gak mau kalah coy buat gangguin orang, haha..aku dan Sutikno memang kompak kalau gangguin orang. Beberapa menit kemudian, taraaaa.....makan telah tiba! ini sebenarnya yang kami tunggu, Pam! udah kencot perutnya,,,


 
akhirnya makan juga 


Sutikno, Endow dan Heri (Ki-Ka)

Setelah makan, dan teman-teman ada juga yang shalat, kamipun melanjutkan canda tawa, ngobrol gak jelas gak ada juntrungnya. Kebiasaan kaya gini udah kami lakukan selama di kost, gak jelas! haha..Setelah 2 jam tiduran, guling-guling tak jelas. Aku gangguin teman-teman yang sedang ngantuk-ngantuknya karena cuaca yang panas. Aku kentutin satu-satu, haha.. Dari Endow, Sutikno, Dedi dan Napis menikmati kentutku sepertinya, karena kentutku baunya wangi, maaf ya coy! Nafis selalu saja panggil aku napi Nusakambangan kalau aku jailin, ya..memang kaya napi si, boksi..botak seski.haha..Dou maut yang membingungkan, Pambudi dan Budi ngobrol-ngobrol di depan rumah, udah kaya orang tua saja..paling ya yang satu ngomong ke sana yang satunya lagi ngomong ke sini, hahahaha... Akhirnya pada tidur semua karena suasana kantuk yang tak terbendung lagi, udah kaya orang jatuh cinta, kalau udah yes..ya yess..haha,,ora nyambung maning!
Sekitar 3 jam kami lalui dengan tidur bersama, sembari menunggu sore karena sorenya kami akan menuju ke pantai, kami melanjutkan obrolan-obrolan yang tidak jelas, pokoknya gak pernah ada topik, haha. Pambudi si tuan rumah mungkin gak tega lihat teman-teman kepanasan, akhirnya dia membeli minuman segar berupa es, gak tahu namanya es apaan, yang jelas dia beli 8 es dengan warna yang berbeda-beda (kaya pelangi). Ini kebetulan atau apa gak ngerti, tapi teman-teman coba perhatikan, tapi kalau dipikir secara nalar kayaknya aneh banget. Biasanya ada satu warna yang sama atau sama semua, tetapi ini beda-beda warnanya. Kamipun mengambil satu-satu, karena dirasa pas suasananya dengan es yang Pambudi beli. Sambil menunggu sore sekitar jam 16.00, Pambudi's father ikut ngobrol-ngobrol dan ikut eksis foto-foto, hehehe...


Pambudi's father, keponakan, dan teman-teman


Bergaya depan rumah Pambudi (Lengkap)


Gaya alay

Sekitar jam 16.00 kami bersiap menuju tempat tujuan utama kami, yaitu pantai, namanya pantai Sodong. Tujuan utama memang gila-gilaan, dan melepas penat aktivitas di Solo yang menjemukan.


 Bersiap ke pantasi Sodong (foto dulu)

Kumpul-kumpul seperti ini di negeri orang memang hal baru yang kami lakukan, oleh karena itu rasa semangat dan ceria benar-benar kami jaga. Setelah perjalanan sekitar 10 menit menggunakan sepeda motor, sampailah di pantai Sodong. Semua bergegas melepas baju yang tinggal kolor doang, ada yang ngerayu cewek-cewek pantai, haha.. ada juga main bola direkam oleh saudara Endow. Keseruan ini kami lepaskan begitu saja, lepas, dan lepas. Waktu itu memang ada yang baru putus cinta, dengan segala keterpurukan, sahabat yang lain tak ingin keceriaan dalam kebersamaan ternodai dengan teman yang murung, jadi semua mengajak untuk bersenang-senang.
Keceriaan tanpa batas

 
 gaya orang bebas

 apapun gayanya, bolehlah

 gaya di kejar satpol PP

suka-suka
Kebetulan tanggal 2 Februari Pambudi baru ulang tahun, jadi teman-teman berkosnpirasi (bahasa anak BEM) untuk ngasih kejutan sama Pambudi. Di tengah keceriaan kami, Pambudi yang tahu akan dikerjain, dia lari terbirit-birit. Kami kejar ke manapun dia pergi, akhirnya kena juga tu anak, hehe...Cebyuuuur....cebyuuuuur....dilemparlah dia ke laut, sori pam! tubuhnya penuh pasir pantai, sebenarnya ada videonya nih,,tapi bukan konsumsi umum karena ada tindakan yang kurang enak, haha...selamat ulang tahun ya boy!

 
proses menghancurkan Pambudi

 Pambudi keenakan, haha
Foto-foto maning


 
Puas
 

Budi mau menggada Pambudi
Sok Cool


Pambudi Boxer

 
di bawah langit biru, keceriaan tersampaikan



terperosok


 Nafis nulis "HBD Pambudi"



Cieee..Ultah kowe Pam, Selamat yo...


Bakti Sosial


gak kuat angkat, akhirnya digelundungin 


Nafis gak bantuin, awas kowe!
 
akhirnya sampai di pinggiran pantai, arusnya deras coy


 
 belajar renang, haha


 sedikit hiperbola


 
walaupun background sampah, tatpi tetep eksis


coba air tawar di daerah pantai


menatap indahnya panorama laut


selang seling


ceria memang gak ada harganya


Freedom Free choice


Cieeeee, mesraanyaaaa.....


iki opo toh


foto edan, sekali edan tetap edan, kompor gaassssss......


Salto dulu coy

Mr. Kumis

Larut dalam keceriaan, hingga sampai pada akhirnya kami menikmati sunset di pantai Sodong. Dari kejauhan pulau Nusakambangan terlihat kecil dan bersinar karena sinar matahari di sore hari. Hari itu memang baru gerimis, kamipun disambut dengan pelangi, dengan 7 warna yang berbeda pula. Hal ini mengingatkanku dengan es yang dibeli Pambudi tadi, warnanyapun berbeda. Tuhan mungkin menggariskan kepada kami untuk saling mewarnai dan melengkapai. Pelangi itu bukan satu tetapi banyak, dengan segala perbedaan kami semua mengerti dan memahami itu. Tidak ada kata benci diantara kami. Semua menjadi satu dalam perbedaan dan itu terlihat indah. Terima kasih Tuhan Yesus...



Terkejut karena melihat Pelangi

Singkat cerita, saaat hari hampir maghrib kami pulang ke rumah Pambudi. Kami kemudian mandi dengan cara yang aneh-aneh. Sampai-sampai shampoo di lempar-lempar karena ketinggalan di luar, terus nyangkut di ternit gara-gara salah lempar, hahah.. makanan sudah di siapkan Pambudi's family, kami makan kayak tidak makan 3 hari, sampai bersih nasinya. Maaf bud, besok nempur beras lagi ya,,,, Kami duduk di teras depan untuk menunggu kedatangan Budi Koplak, karena malam itu kami akan menginap di tempat Budi. Budi akhirnya datang dengan mobil carry yang cantik, rumahnya cukup dekat, sekitar 5 menitan kami dah sampai di sana. Di sana kami masuk berkenalan dengan anggota keluarga. Kemudian kami ngobrol di ruang sebelah ( di malam itu kami ngobrol pengalaman horror, yah mulai dari pocong, kuntilanak dan berbagai macam hantu yang lain lah. Cukup memanasakan dan membuat merinding juga) yah karena saking capeknya mungkin, ditmbah dengan rencana kami yang mau pulang besok pagi pagi banget, jam 10.30. Ada yang langsung tidur dan ada juga yang tidak bisa tidur. 


 
 Suguhan dari Budi

 Terkesima mendengar cerita horor dari Budi

 
 Dedi dan Nafis


 
 Sutikno dan Nafis

Wajah kusam Pambudi ketika bangun tidur

Kami bangun pagi-pagi karena harus ke stasiun untuk balik ke Solo. Tidur cuma bentar, badan capek jam setengah 5 sudah bangun, ada yang shalat subuh trus ngobrol terus sambil tiduran  dan siap-siap buat pulang. Ada yang mandi dan ada yang cuma sikat gigi doang, hehe..sembari nunggu sarapan dari tuan rumah diselingi dengan rencana puk tidak membeli tiket. Sekitar pk 06.36 kami  menuju ke stasiun Kroya untuk balik ke solo. Tapi yang terjadi apa? Kami ketinggalan kereta. hahaha....konyol! Akhirnya di putuskan buat sekalian mampir kerumah si Binangun, yaitu Sutikno. Tuhan mungkin sudah menggariskan kami semua untuk adil. Kamipun beranjak ke tempat Sutikno yang berada jauh di ujung Timur Cilacap. Perjalanan sekitar 30 menit kami capai. Kami sampai di rumah Tikno dan bersalaman dengan orang tua Tikno sambil menunggu jadwal kereta api untuk siang.


Sungkem dengan orang tua Budi


 Bersiap-siap ke stasiun Kroya

Setelah beberapa jam di tempat Sutikno, kami kembali ke stasiun Kroya untuk kembali ke Solo. Tanpa tiket kami percaya diri masuk ke dalam kereta api. Ada yang tahu berapa tarifnya? hanya Rp 20.000,- untuk 4 orang, itu aku, Endow, Dedi, dan Nafis. Seharusnya jika kami membeli tiket itu Rp 21.000/ orang. Haahaha..aku ajarin teman-teman untuk curang..,....Jangan ditiru ya! Perjalanan 5 jam kami lalui

Sahabat....Lika-liku persahabatan tidak akan berjalan mulus, karena di dalam persahabatan pasti ada perbedaan. Rasa iri, tersinggung, cacian, teguran, itu sudah biasa..itu yang membuatkan kami kuat dan bertahan sampai hari ini. Kami tidak pernah merasa dendam satu sama lain, jika terdapat permasalahan diantara kami, pasti akan diselesaikan pada hari itu juga. 
Kalau kata Nafis, pelangi memang terdiri dari warna yang berbeda – beda dengan karakter yang kuat, tapi dengan perbedaan itulah yang menyebabkan pelangi menjadi indah dan sempuran. Begitupun dengan kita yang berbeda beda kan? Tapi semua ada untuk saling menyempurnakan…. Majulah sahabat pelangi, mari kita rangkai lagi kisah seru yang lain…. SEMANGAT>>>>>>> 
Pambudi mengartikannya berbeda lagi, walaupun kalian menghabiskan berasku tetapi  kalian menghabiskan beras-berasku dengan lahap, itu sudah cukup membuatku damai!
Menurut kalian Sahabat itu apa si? tidak ada definisi pasti, karena setiap perjalanan persahabatan akan dilalui secara berbeda-beda....

Tulisan ini aku persembahkan untuk sahabat-sahabatku di manapun kalian berada. Komunikasi tetap dijaga ya!


Ini dia tampak sekarang setelah 4 tahun yang lalu...

Yosep Heri Kristianto. Masih menjadi mahasiswa di UKSW, program studi PGSD semester 8. Masih dalam tahap skripsi om...monggo:

 Heri (tahun 2014)

Muhamad Durun Nafis, sekarang bekerja di Sinarmas di daerah Kudus. Sudah jadi orang nih bro...benatar lagi mau nikah, katanya! ssssst..jangan keras-keras, hehe

Nafis (2014)

Pambudi, masih menjadi mahasiswa (Ditunggu wisudanya), tetapi sudah bekerja. Ini orang masih misterisus, hehe..

 
 Pambudi (2014)

Dedi Ari Wibowo, sekarang sudah kerja di Sragen. Lama gak ketemu bro...
 
 Dedi (2014)

Budi Fermansah, si keren ini masih kuliah di UNDIP, keren to? masih semester 8.
 Budi (2014)

Endow Firza Ediwindra, artis TATV yang kemarin kerja di WIKA, sekarang udah gak sepertinya ya bro,,nanti kalau salah komen aja di bawah ya...hehe..ditunggu kapan nikahnya bro, hehe...ni orangnya:


Endow & Oky (2014)
Andry Sutikno, Ini dia manusia aneh, yang sekarang sudah menikah dan membagi ilmunya di bimbingan belajar di Kroya. monggo:


Andry & Dewi (2014)

Nikah ra kabar2, tapi selamat boy
 
       "Tuhan Memberkati Perjalanan Kita Guys"





































 
© Copyright 2035 Yosep Heri Kristianto
Theme by Yusuf Fikri