Tampilkan postingan dengan label Luapan Pikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Luapan Pikiran. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 03 Februari 2018
Sabtu, 05 September 2015
Simulasi Kursi “Wadah” dan Siswa “Isi” – Konsep perkalian
Abstraksi
Belajar konsep perkalian dimulai dari hal-hal yang konkret
dan ditemui dalam kehidupan sehari-hari. metode yang digunakan menyenangkan
akan membantu siswa mencapai pemahaman konsep yang diharapkan. Penanaman konsep
perkalian ini menggunakan kursi sebagai “wadah” dan siswa sebagai “isi”.
Latar Belakang
Kelas SDN Matutuang, Kab. Sangihe, Sulawesi Utara berjumlah
10 siswa yang hampir semuanya memiliki keinginan untuk tampil di depan kelas. Siswa-siswa
juga memiliki kecerdasan kinestetik yang sangat baik, sehingga metode
pembelajaran yang melibatkan gerak ekspresif menjadi efektif dan menarik untuk
mereka.
Latar Belakang
Penggunaan Metode
Konsep Perkalian tercantum dalam SK-KD kelas II semester 2.
Sering kali penyampaian konsep perkalian menggunakan istilah wadah da isi.
Misalnya tiga buah wadah masing-masing diisi dengan 2 kelereng, maka sama
dengan 2+2+2 = 6. Atau jika ditulis dalam bentuk perkalian 3 (wadah) x 2 (isi)
= 6.
Latar Belakang Penyampaian
materi
Analogi “wadah” dan “isi” diganti dengan kursi (sebagai
wadah) dan orang (sebagai isi) agar siswa mengingat konsep perkalian ini ke
dalam ingatan jangka panjang mereka, karena sering kali siswa lupa dengan
materi yang baru saja diajarkan.
Teori/Penjelasan
materi
“Perkalian merupakan penjumlahan berulang”
Ada 3 piring yang berisi jeruk. Setiap piring berisi 2 buah
jeruk. Banyak jeruk seluruhnya dapat dihitung dengan cara: 2+2+2 = 6. Bentuk
2+2+2 menunjukkan penjumlahan angka 2 sebanyak 3 kali. Jadi 2+2+2 dapat ditulis
menjadi perkalian 3x2=6
Metode
Dari penjelasan materi di atas, siswa dapat melakukan
simulasi konsep perkalian ini dengan kursi sebagai wadah/piring dan siswa
sendiri sebagai isi/jeruk.
Langkah pertama
Guru terlebih dahulu menjelaskan penjumlahan berulang,
kemudian guru membimbing siswa-siswa untuk menarik kesimpulan bahwa perkalian
adalah penjumlahan berulang.
Langkah kedua
Kemudian, guru menyiapkan 3 buah kursi dan 6 orang relawan
untuk maju. Masing-masing kursi didudukki 2 orang. “Ada 3 kursi yang
masing-masing didudukki oleh dua orang” maka guru menulis 3x2 di papan tulis.
Kemudian guru membuka diskusi dengan menanyakan berapa orang
yang duduk di kursi 3 tersebut. Jika siswa-siswa belum paham, guru mengajak
siswa untuk menghitung bersama-sama berpa jumlah orang yang duduk di 3 kursi.
Kursi dan orang bisa disesuaikan dengan bilangan perkaliannya.
Lesson Learned
Pendidikan karakter
yang disisipkan
Metode ini adalah kesediaan untuk saling berbagi (tempat
duduk) dengan teman.
Kesimpulan
Pelajaran matematika yang konstruktif dan kontekstual perlu
diberikan kepada peserta didik. Pembelajaran konsep perkalian yang menggunakan
contoh konstruktif dalam kehidupan sehari-hari membantu pemahaman siswa.
Labels:
Luapan Pikiran
Senin, 26 Mei 2014
Senyummu Diakhiri Tanda Tanya
Senyummu…
Lunak tak berduri
Tidak terlalu lebar
dan tidak terlalu kecil
Pas dengan wajah yang
mungil
Serasi dengan dua
lingkaran pelapis mata
Senyummu…
Murah dan tidak dapat
dibeli
Tulus dan ikhlas
Selalu ketagihan jika
kau sebar
Membuat hatiku
bergetar
Senyummu…
Manis murni tanpa
pemanis buatan
Sakti pelipur lara
Pengganti fungsi
rembulan bagiku
Senyummu…
Senyummu…
Senyummu…
Senyummu…
Senyummu…
Senyummu…
Senyummu…
Tak terhingga
senyummu…
Kapan kubisa merahmu?
Labels:
Luapan Pikiran
Aku Tahu dan Itu Kurang
Aku tahu
Kamu itu satu
Aku tahu
Berjumpa denganmu
adalah anugerah
Aku tahu
Kamu bingung dengan
segala permasalahanmu
Aku tahu
Ketika kamu
bercengkerama denganku
Aku tahu
Berbicara dengamu itu
penuh rencana
Aku tahu
Aku selalu memilah
kalimat untukmu
Aku tahu
Kamu selalu bicara
yang sama
Aku tahu
Kamu banyak membisu
di dekatku
Aku tahu
Betapa sulitnya
menerima caraku berdiskusi
Aku tahu
Aku selalu detail
menanyakan sesuatu
Aku tahu
Kamu jarang tersenyum
bila di dekatku
Aku tahu
Kalau aku tidak tahu
apa isi hatimu
Aku tahu
Kemasanmu yang
menyulapku untuk selalu ingin tahu lebih jauh lebih dari segala ciptaan-Nya
yang ada di bumi
Labels:
Luapan Pikiran
Kamis, 22 Mei 2014
Kalau Awalnya Tidak Gila, Seterusnya Akan Biasa-biasa Saja
Ketika membaca buku "Gurunya Manusia", buku ciptaan Bapak Munif Chatib, quote oleh Om Albert Enstein ini menjadi barisan awal yang menjadi penyemangat buat pembaca. Aku selalu berpikir keras apakah hal ini selalu dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari apa tidak. Aku calon guru, hal ini pernah aku terapkan di dalam praktik proses belajar mengajar di dalam dan atau di luar kelas, tepatnya saat apersepsi. Aku desain pembelajaran menyenangkan mungkin tetapi tidak luput dari esensi pembelajaran. Saat apersepsi aku mulai dengan menyanyi dan bergoyang. Lagu yang dinyanyikan syairnya aku ubah sesuai dengan tema dari mata pelajaran yang diajarkan. Waktu itu mata pelajaran matematika dengan tema satuan panjang untuk kelas 3 SD. Dengan gaya komunikatif anak-anak, aku berhasil menyulap inti pembelajaran matematika yang dianggap sulit bagi anak-anak menjadi menarik dan menantang. Mereka selalu bernyanyi ketika mengerjakan soal di papan tulis atau di buku. Apersepsi adalah mukadimah di mana guru memberi stimulus pada anak untuk memberikan energi dengan kekuatan super agar anak tertarik untuk belajar dari awal hingga akhir pembelajaran dan quote ini berhasil dibuktikan.
Kembali ke awal, bahwasannya definisi gila di sini adalah untuk hal positif, bukan negatif, sedangkan untuk yang biasa-biasa saja, maksudnya kurang berkesan, itu tidak menurut pandangan para ahli, itu menurut pandanganku sendiri. Untuk selalu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mungkin iya mungkin tidak. Semuanya penuh teka-teki, tergantung mau menggunakan prinsip quote tersebut menjadi acuan kehidupan atau tidak.
Aku belum menemukan pandangan Om Albert sendiri tentang quote ini, karena aku hanya mengutip, tetapi setidaknya aku dan kalian bisa menafsirkan sendiri apa maknanya. Aku percaya Om Albert adalah orang yang mempunyai pemikiran lain laiknya orang-orang di sekitarnya, akan tetapi aku tidak sepenuhnya percaya, karena aku harus mencari akar dari pemikiran tersebut.
Kalimat motivasi ini sebenarnya menggambarkan perjuangan Om Albert yang melakukan perubahan atas dirinya dan dunia.
Selamat mencoba, karena kalimat motivasi bisa menjadi penyemangat atau hanya sekumpulan huruf yang tertulis saja.
Tuhan Yesus Memberkati
Labels:
Luapan Pikiran
Kamis, 15 Mei 2014
GAYA KEPEMIMPINAN “BLUSUKAN” SEBAGAI PERSPEKTIF GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL
Oleh:
Yosep Heri Kristianto
Latar
Belakang
Pemimpin “Blusukan”
oleh Reza Wattimena idealnya adalah pemimpin yang menggunakan cara-cara
demokratis agar permasalahan di lapangan
Labels:
Luapan Pikiran
Jumat, 21 Maret 2014
Disfungsi Ereksi Bisa Diatasi
Ereksi penis adalah membesar dan/atau menegangnya penis
[1]. Ereksi dapat
berfungsi atau tidak tergantung dari pola hidup seseorang. Erkesi tidak
berfungsi dengan maksimal karena terdapat sebab musababnya salah satunya
diabetes. Menurut para ahli, pengidap diabetes memiliki rata-rata 4-10 risiko
disfungsi ereksi dibandingkan laki-laki tanpa diabetes. Disfungsi ereksi
sendiri adalah komplikasi tersembunyi yang paling banyak dialami penderita
diabetes [2].
Tampaknya terdapat
perbedaan makna dalam pandangan dari para ahli bahwa penyebab terbanyak
disfungsi ereksi adalah penurunan kualitas pembuluh darah yang disebabkan oleh
satu atau gabungan factor, seperti diabetes, tekanan darah tinggi , dysiplidemia (kolesterol yang tinggi),
kegemukan dan rokok. Gabungan rokok dengan salahs atu faktor risiko lain,
seperti hipertensi, diabetes atau kolesterol tinggi akan memperhambat disfungsi
ereksi atau impotensi [3].
Ereksi tidak lepas
peranannya bagi seorang pria. Pria yang tidak dapat melakukan kemampuan
sesksual cukup merisaukan karena berkaitan dengan harga diri, kebanggan sebagai
pria jantan, rasa percaya diri serta kepuasan intimnya. Penelitian di Chicago,
Amerika Serikat menunjukkan laki-laki yang didiagnosis kencing manis akan
mengalami penurunan minat terhadap aktivitas seksual, mengalami ejakulasi dini,
disfungsi ereksi, serta kesulitan orgasme. Tidak hanya itu, perempuan yang
menderita kencing manis juga mengalami kesulitan dalam orgasme [4].
Langkah-langkah yang
tepat untuk mengatasi disfungsi ereksi tersebut adalah berkonsultasi dengan
dokter ahli dan atau melalui jaringan layanan kesehatan bagi seksual pria
(ejakulasi dini dan impotensi), selain pria wanita juga dapat berkonsultasi [5].
Konsultasikan segera
jika terdapat permasalahan terhadap penyakit yang mempengaruhi seksualitas
anda, karena tanpa seksualitas hidup terasa kurang indah. Menurut para ahli,
beberapa manfaat yang bisa diraih jika melakukan hubungan seksual secara
regular adalah terhindar dari risiko serangan jantung dan stroke, terhindar
dari risiko kanker prostat, terhindar dari risiko atrofi, serta terhindar dari depresi dan cemas [6].
[1] Kompas (KLASIKA) edisi Selasa,
18 Maret 2014, hal. 37
[2] Kompas (KLASIKA) edisi Selasa,
18 Maret 2014, hal. 37
[3] Kompas (KLASIKA) edisi Selasa,
18 Maret 2014, hal. 37
[4] Kompas (KLASIKA) edisi Selasa,
18 Maret 2014, hal. 37
[5] Kompas (KLASIKA) edisi Selasa,
18 Maret 2014, hal. 37
[6] Kompas (KLASIKA) edisi Selasa,
18 Maret 2014, hal. 37
Labels:
Luapan Pikiran
Minggu, 26 Januari 2014
Mengubah Pola pikir
Sebagian besar orang Indonesia
berangapan bahwa, “sehari tidak memakan nasi berarti sama saja tidak makan”.
Anggapan ini secara tidak langsung membudaya dan menjadi acuan bagi setiap
orang. Pola pikir tersebut sebenarnya bisa dirubah asalkan pemerintah mau turun
tangan untuk terjun ke masyarakat memberi penyuluhan dan pendampingan.
Labels:
Luapan Pikiran
Aroma Kebiasaan
Israel Utara, di
mana tempat Tuhan Yesus dilahirkan, tepatnya adalah Nazareth
Labels:
Luapan Pikiran
Kamis, 23 Januari 2014
Menciptakan Perdamaian
Mahasiswa di kampus UKSW adalah mahasiswa yang
heterogen. Biasanya kami menyebutnya dengan Indonesia Mini. Dari berbagai
daerah berkumpul menjadi satu untuk
belajar, berorganisasi, bertukar pendapat serta melakukan berbagai aktivitas
lainnya. Untuk itu kami selalu menggunakan bahasa Indonesia di dalam melakukan
aktivitas tersebut.
Selain mempermudah di dalam berkomunikasi,
bahasa Indonesia juga dapat menciptakan perdamaian antarmahasiswa. Ketika
mahasiswa dengan latar belakang yang berbeda-beda berselisih, komunikasi dengan
bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi solusinya.
Oleh karena itu berbahasa Indonesia dengan
baik dan benar harus dibiasakan. Mulai dari mendengarkan, berbicara, membaca,
dan menulis. Karena dengan keterampilan berbahasa, kita sudah mengurangi
perselisihan antardaerah yang sering terjadi di kalangan mahasiswa.
Labels:
Luapan Pikiran
Belajar Mengritisi
Mahasiswa dan buku diktat adalah sahabat yang cenderung
dipaksa tetapi tidak pernah berakhir
saat hidup berkuliah. Hal ini terkait dengan tuntutan mahasiswa yang harus
membaca dan mempelajari buku diktat untuk menunjang mata kuliahnya. Karena buku
diktat dianggap sukar untuk mendalaminya oleh sebagian mahasiswa, sehingga
mahasiswa mencari buku bacaan yang dianggap lebih menyenangkan dan mendamaikan.
Munculah buku fiksi sebagai pelipur lara dari berbagai kepenatan aktivitas
kampus.
Buku fiksi dapat diakses dengan mudah dengan
cara on line di perpustakaan kampus.
Sehingga mahasiswa banyak yang mencarinya dengan lebih praktis dan
fleksibel. Selain buku fiksi sebagai
penyegar pikiran agar lebih rileks, buku tersebut dapat membuat kita untuk
belajar kriitis. Ketika membaca bab per bab, kita akan menemukan alur yang
menopang cerita di dalam buku fiksi tersebut. Hal ini membuat kita semakin
kritis dengan menebak-nebak bahasan di bab berikutnya dari formula cerita yang
ditawarkan di bab sebelumnya. Oleh sebab itu mahasiswa yang cenderung suka
membaca buku fiksi cenderung lebih kritis akan sesuatu hal.
Labels:
Luapan Pikiran
Alat Untuk Bercermin
Indonesia adalah negara merdeka yang mempunyai
idealisme pokok, yaitu Pancasila. Idealisme ini tumbuh dan berkembang karena
selalu dipegang teguh oleh rakyat penopang sang Sakti ini. Ketika rakyat
berjuang untuk tanah airnya, idelisme ini menjadi perisai di dalam memerangi
doktrinisasi para penjajah. Betapa kuatnya rakyat Indonesia dengan
kesederhanaannya, tanpa ada gengsi yang melekat, hanya karena perbedaan
persenjataan dan strategi. Walaupun hanya menggunakan kearifan lokal, seperti
bambu runcing, tetapi dengan idelisme dan nasionalisme yang kuat, penjajah
sekelas negara kincir angin dan sang matahari terbit bisa ditaklukan.
Kemerdekaan ini janganlah cepat berlalu.
Dengan semakin tumbuhnya negara kita, semakin tumbuh juga semangat para
rakyatnya. Kemeriahan dan kegembiraan jangan sampai terlena dengan suatu tanda
kebebasan yaitu ‘merdeka’. Ini adalah awal bagi kita para penerus bangsa, awal
kita untuk bertindak untuk negara ini, agar kemerdekaan bukan hanya sebagai
tanda tetapi sebagai alat untuk bercermin.
Negara ini memang sudah ‘merdeka’, merdeka di
dalam mempertahankan tanah air di tangan para penjajah. Perlu kita sadari,
negara ini sebenarnya belum merdeka sutuhnya. Banyak tindakan amoral dan hak
asasi manusia yang semakin tak ada artinya. Penjajahan terus merajalela di
negeri kita, tanpa pandang bulu dari sektor mana saja. Berat untuk
mempertahankan kemerdekaan ini, apalagi mengembangkan agar negara ini lebih
dinamis di dalam kehidupan kenegaraannya. Korupsi, Kolusi dan nepotisme tak
terhalang, tindak acah acuh juga semakin dikedepankan. Akankan gejolak badai
penjajahan ini berakhir? Tidak mungkin, kalau kita sebagai anak muda hanya
berdiam diri, dan menonton kekejaman batin. Karena selain faktor luar yaitu
budaya asing, faktor dari dalampun ikut berperan di dalam kehancuran bangsa
ini, yaitu perang saudara demi kekuasaan.
Labels:
Luapan Pikiran
Sesuai Porsinya
Tidak dipungkiri lagi, gadget masuk dalam
kehidupan manusia seutuhnya. Apalagi dalam kehidupan bermahasiswa, gadget
menjadi bagian dalam kehidupannya sehari-hari. Karena di dalam kebergunaan
gadget, semua dapat diakses dan didapat. Gadget membuat segalanya lebih mudah
dan praktis tanpa memandang status sosial yang ada. Banyak hal positif yang
didapat mahasiswa dalam menggunakan gadget,
seperti mengakses referensi-referensi tugas kuliah, mencari beasiswa dan
lowongan pekerjaan dengan lebih mudah, dan banyak lainnya. Akan tetapi
kebanyakan mahasiswa cenderung menggunakan fasilitas di dalam gadget untuk
bermain game tanpa mengenal waktu.
Mereka lebih memilih gadget yang dimiliki daripada mengikuti organisasi dan
kehidupan sosial lainnya.
Saya anggap ini sebagai “penyakit” dari kaum
mahasiswa. Karena dampak penggunaan gadget yang terlalu berlebihan membuat
mahasiswa menjadi apatis terhadap lingkungan di sekilingnya dan cenderung
individualis. Seharusnya kita dapat memanfaatkan perkembangan teknologi ini
sesuai dengan porsinya.Karena gadget hanya sebagai penunjang untuk kehidupan
bermahasiswa, jangan sampai kita dijajah dengan kemudahan-kemudahan yang
tersedia dan tetap memperhatikan di sekeliling kita yang lebih penting.
Labels:
Luapan Pikiran
Membangun Jiwa Sosial Lewat Antre
Terlihat sepele, tetapi jika dilakukan
membutuhkan kesabaran yang lebih. Itulah antre, aktivitas yang biasa kita lihat
di sudut-sudut kampus dalam kehidupan bermahasiswa. Aktivitas ini bukan hanya
sebagai aturan moril tetapi juga sebagai suatu kebudayaan. Kebiasaan ini jika
dilanggar akan merugikan banyak orang disekitarnya. Tetapi tidak semua
mahasiswa melakukan antre tersebut. Padahal pada umumnya mahasiswa sudah
mengetahui apa itu antre, tetapi dengan tindakan acuhnya seakan-akan antre
dikalahkan oleh egonya masing-masing.
Perlu kita ketahui, budaya antre selain
melatih kesabaran, juga membangun jiwa sosial dengan baik antarmahasiswa yang
tertib akan budaya antre tersebut. Contoh sederhananya pada pembayaran uang
kuliah di Bank. Ketika mahasiswa menunggu dengan sabar dan antre sesuai
urutannya, disitu mahasiswa dapat membangun sosialisasi denga mahasiswa
lainnya. Dengan cara mengajak mahasiswa disekitrnya berbicara. Selain
mendapatkan teman, hal tersebut memperkuat jaringan kita terhadap mahasiswa
lain di lingkungan kampus. Oleh karena itu budaya antre bukan sebagai budaya
yang harus dihindari tetapi sebagai peluang kita dalam kehidupan bermahasiswa
dan kehidupan kita sehari-hari.
Labels:
Luapan Pikiran
Sehat Itu Tidak Harus Mahal
Memilih makanan sehat sangat diperlukan bagi
mahasiswa yang tinggal di kost. Karena dengan makanan sehat, tubuh kita akan
terasa sehat dan siap menjalankan aktivitas dengan baik. Melihat keadaan
mahasiswa yang mempunyai banyak agenda, seharusnya kita menjaga tubuh kita
dengan baik. Memang tidak dipungkiri lagi untuk memilih makanan sehat yang
notabene kita tinggal di luar rumah terasa sangat sulit. Karena berbagai godaan
untuk membeli makanan yang serba enak pasti datang setiap hari.
Secara teori, asupan gizi yang cukup
berbanding lurus dengan dana yang dikeluarkan.. Akan tetapi sebagai mahasiswa
seharusnya dapat lebih selektif di dalam memilih makanan yang bermanfaat bagi
tubuh kita. Dengan menanak nasi sendiri serta membeli sayur di warung yang
harganya terjangkau itu akan membuat badan kita terasa bugar. Kita harus
mengatur jadwal dengan baik, agar tidak kehabisan sayuran di warung yang sudah
dipilih. Cara tersebut biasa saya lakukan di dalam mengatur pola hidup sehat
tanpa mengeluarkan biaya yang lebih banyak.
Labels:
Luapan Pikiran
Terlihat Mudah Tetapi Sulit
Rubrik Kompas Kampus Edisi Selasa, 6 Agustus 2013
Terlihat mudah tetapi sulit, itulah
bahasa Indonesia. Bukan karena bahasa Indonesia yang menjadikan sulit, tetapi
kita yang menjadikan bahasa Indonesia tersa sulit. Banyak kalangan mahasiswa
yang menyepelekan bahasa Indonesia, karena dirasa sebagai bahasa negara
sendiri.
Kurangnya membiasakan berbahasa
Indonesia dengan baik dan benar, membuat keberadaan bahasa ini menjadi bias.
Bahkan kemampuan berbahasa asing mengungguli kemampuan di dalam berbahasa
Indonesia. Seharusnya kita malu dengan negara kita. Karena tanpa kita sadari,
bahasa yang dijunjung tinggi di negara Indonesia ini akan punah dengan
sendirinya ketika kita menggerusnya dengan pikiran setengah sadar.
Banyak wadah yang dapat membiasakan mahasiswa menggunakan
bahasa Indonesia dengan baik dan benar, salah satunya dengan mengikuti kegiatan
di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM). mahasiswa di LPM dituntut untuk berinteraksi
sosial dan menulis berita. Kebiasaan ini akan bermanfaat untuk kita sebagai
mahasiswa di masa yang akan datang.
Labels:
Luapan Pikiran
Belajar Berharmoni
Kedua kalinya tulisanku tentang opini dimuat di rubrik Kompas Kampus Edisi Selasa, 17 September 2013 halaman 34.
Kerap kali mahasiswa menyepelekan UKM tarik
suara, yaitu UKM paduan suara mahasiswa. Padahal jika kita tahu menghayati
filosofi dari paduan suara mahasiswa, kita akan belajar banyak dari UKM
tersebut. Salah satunya berharmonisasi, entah di dalam esensi paduan suara itu
sendiri maupun di dalam mengarungi suatu kehidupan.
Walaupun membutuhkan banyak waktu di dalam
setiap latihan, tetapi tidak ada keluh kesah bagi yang berminat dan menghayati
UKM tarik suara tersebut. Personil yang dibutuhkan juga tidak harus mempunyai
suara yang sangat bagus, karena suara solo yang bagus jika dipadukan belum
tentu menjadi harmoni. Dalam paduan suara kita juga dapat belajar untuk rendah
hati, menahan emosi, berdinamisasi antar kawan kita masing-masing disetiap
tinggi rendahnya nada, serta belajar berorganisasi. Keteraturan tersebut yang
akan membawa suara bersatu padu bersenandung indah. Efek keteraturan ini
pastinya dapat disalurkan di acara-acara tertentu, baik dalam pelayanan maupun
kompetisi. Dari situlah kita mempunyai keluarga yang akan selalu mengerti kita
dalam bersatu padu.
Oleh karena itu, jangan menyepelekan UKM tarik
suara ini. Semua mahasiswa dapat belajar di UKM tersebut tanpa harus
mengeluarkan biaya lebih. Cukup dengan kepercayaan diri tinggi dan mantapkan
hati.
Taraaaaaaaaa!!!!!!!!!
Labels:
Luapan Pikiran
Butiran Debu
Aku hanyalah butiran debu. Buturan debu yang
tak berguna, hanya sebagai benalu di jalanan. berbentuk seperti atom, bahkan
tak terlihat dan cenderung membinasakan. Barangkali, anginpun tak sudi untuk
menerbangkanku hinggga menembus cakrawala. Keringnya tubuh ini, dahaga dan
berkerak. Oasae yang diharapkanpun tak kunjung muncul ke permukaan. Seakan-akan
dunia ini sudah tidak dapat ku pegang lagi.
Aku hanyalah butiran debu yang menyemai dunia
ini. Walau tidak diundang, tetapi aku datang sebagai penyeimbang dinamika
kehidupan. Bukan kehidupan yang fana, tetapi kehidupan nyata dan mempunyai arti
sebenarnya. Ketika butiran debu ingin mencari sesuatu yang dapat dihinggapi dan
bersemai sepanjang hidup, angin pun bergejolak untuk melarikanku. Hanya kelemahan
dan kemunafikan yang kudapat. Itulah butiran debu.
Aku memang butiran debu, tetapi aku ingin
menjadi sebongkah batu yang kuat dan perkasa. Aku ingin menjadi penyelamat bagi
yang membutuhkan. Aku ingin menjadi dinding-dinding raksasa nan megah di pinggiran
kota. Ak ingin menjadi pelindung dan pengayom kehidupan di bumi ini. Itulah
mimpiku, mimpi butiran debu.
Labels:
Luapan Pikiran
Tidak ada kata terlambat
Pancasila,
Sebuah kata yang sangat fenomenal bagi bangsa Indonesia. Tidak terbayangkan
sudah sekian lama Pancasila menjadi menjadi dasar negara kita. Pancasila
membawa kerukunan bagi umat manusia di Indonesia. Seringkali kita ketahui bahwa
apa yang terdapat dalam butir-butir Pancasila adalah pembangun manusia dan
bangsa itu agar menjadi masyarakat yang bermoral dan berkarakter cerdas.
Peranan Pancasila bagi bangsa ini sangat sentral karena dedikasinya memberikan
animo masyarakat semakin berpegang teguh dalam suatu keindahan bermoral dan
suatu kebenaran berperilaku.
Keyakinan
tersebut seharusnya bukan hanya sebagai legitimasi saja, tetapi harus kita
hayati dan kita amalkan. Tentunya harus dimulai dari diri kita sendiri, mau
untuk berkomitmen atau tidak. Tidak ada kata terlambat untuk berbuat baik.
kemudian kita transferkan energi kita untuk adik-adik yang masih duduk di
sekolah dasar, karena akar pendidikan ketika anak duduk di sekolah dasar. Saya
sebagai calon guru memang sudah kewajiban saya untuk memberikan pemahaman dan
menjadi teladan bagi peserta didik nantinya. Intinya tidak ada kata terlambat
dan jangan takut berbuat kebaikan.
Labels:
Luapan Pikiran
Manfaatkan koneksi
Salah satu tujuan
akhir kuliah adalah bekerja untuk mencari nafkah. Akan tetapi tidak semudah
membalikan telapak tangan untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan sesuai
bidangnya. Bukan hanya bidang akademik saja yang harus dikuasai, tetapi soft skill harus dipunya oleh setiap
mahasiswa. Banyak alternatif yang dilakukan oleh mahasiswa untuk mengembangkan
diri untuk membangun professional skill
dan soft skill mereka.
Selama kuliah, selain mengais ilmu dari kegiatan perkuliahan, banyak
wadah untuk mengembangkan diri, salah satunya yaitu dengan mengikuti Lembaga
Kemahasiswaan. Lembaga kemahasiswaan (LK) memberikan banyak pengalaman dan
pembelajaran yang sangat berharga. Di LK, mahasiswa dapat berlatih kepemimpinan
dan menjalin banyak koneksi.
Oleh karena itu,
mahasiswa di era globalisasi ini harus pintar-pintar mencari banyak peluang
untuk mengembangkan diri selama hidup bermahasiswa. LK menjadai alternatif yang
menjanjikan untuk pengembangan diri dan tempat belajar mencari koneksi. Dengan mempunyai banyak koneksi dari kegiatan
berorganisasi mahasiswa lebih mudah mencari celah untuk mencari suatu pekerjaan
yang diinginkan dan memperoleh pengalaman yang tidak akan terlupakan.
Labels:
Luapan Pikiran
Langganan:
Postingan (Atom)




