Tampilkan postingan dengan label Luapan Pikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Luapan Pikiran. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Februari 2018

Mahasiswa Zaman Old


Apa si artinya bahagia? bahagia ya seperti orang yang tulisan positifnya terpampang di media. 





Sabtu, 05 September 2015

Simulasi Kursi “Wadah” dan Siswa “Isi” – Konsep perkalian


Abstraksi
Belajar konsep perkalian dimulai dari hal-hal yang konkret dan ditemui dalam kehidupan sehari-hari. metode yang digunakan menyenangkan akan membantu siswa mencapai pemahaman konsep yang diharapkan. Penanaman konsep perkalian ini menggunakan kursi sebagai “wadah” dan siswa sebagai “isi”.
Latar Belakang
Kelas SDN Matutuang, Kab. Sangihe, Sulawesi Utara berjumlah 10 siswa yang hampir semuanya memiliki keinginan untuk tampil di depan kelas. Siswa-siswa juga memiliki kecerdasan kinestetik yang sangat baik, sehingga metode pembelajaran yang melibatkan gerak ekspresif menjadi efektif dan menarik untuk mereka.
Latar Belakang Penggunaan Metode
Konsep Perkalian tercantum dalam SK-KD kelas II semester 2. Sering kali penyampaian konsep perkalian menggunakan istilah wadah da isi. Misalnya tiga buah wadah masing-masing diisi dengan 2 kelereng, maka sama dengan 2+2+2 = 6. Atau jika ditulis dalam bentuk perkalian 3 (wadah) x 2 (isi) = 6.
Latar Belakang Penyampaian materi
Analogi “wadah” dan “isi” diganti dengan kursi (sebagai wadah) dan orang (sebagai isi) agar siswa mengingat konsep perkalian ini ke dalam ingatan jangka panjang mereka, karena sering kali siswa lupa dengan materi yang baru saja diajarkan.
Teori/Penjelasan materi
“Perkalian merupakan penjumlahan berulang”
Ada 3 piring yang berisi jeruk. Setiap piring berisi 2 buah jeruk. Banyak jeruk seluruhnya dapat dihitung dengan cara: 2+2+2 = 6. Bentuk 2+2+2 menunjukkan penjumlahan angka 2 sebanyak 3 kali. Jadi 2+2+2 dapat ditulis menjadi perkalian 3x2=6
Metode
Dari penjelasan materi di atas, siswa dapat melakukan simulasi konsep perkalian ini dengan kursi sebagai wadah/piring dan siswa sendiri sebagai isi/jeruk.
Langkah pertama
Guru terlebih dahulu menjelaskan penjumlahan berulang, kemudian guru membimbing siswa-siswa untuk menarik kesimpulan bahwa perkalian adalah penjumlahan berulang.

Langkah kedua
Kemudian, guru menyiapkan 3 buah kursi dan 6 orang relawan untuk maju. Masing-masing kursi didudukki 2 orang. “Ada 3 kursi yang masing-masing didudukki oleh dua orang” maka guru menulis 3x2 di papan tulis.
Kemudian guru membuka diskusi dengan menanyakan berapa orang yang duduk di kursi 3 tersebut. Jika siswa-siswa belum paham, guru mengajak siswa untuk menghitung bersama-sama berpa jumlah orang yang duduk di 3 kursi. Kursi dan orang bisa disesuaikan dengan bilangan perkaliannya.
Lesson Learned
Pendidikan karakter yang disisipkan
Metode ini adalah kesediaan untuk saling berbagi (tempat duduk) dengan teman.
Kesimpulan
Pelajaran matematika yang konstruktif dan kontekstual perlu diberikan kepada peserta didik. Pembelajaran konsep perkalian yang menggunakan contoh konstruktif dalam kehidupan sehari-hari membantu pemahaman siswa.

Senin, 26 Mei 2014

Senyummu Diakhiri Tanda Tanya

Senyummu…
Lunak tak berduri
Tidak terlalu lebar dan tidak terlalu kecil
Pas dengan wajah yang mungil
Serasi dengan dua lingkaran pelapis mata
Senyummu…
Murah dan tidak dapat dibeli
Tulus dan ikhlas
Selalu ketagihan jika kau sebar
Membuat hatiku bergetar
Senyummu…
Manis murni tanpa pemanis buatan
Sakti pelipur lara
Pengganti fungsi rembulan bagiku
Senyummu…
Senyummu…
Senyummu…
Senyummu…
Senyummu…
Senyummu…
Senyummu…
Tak terhingga senyummu…
Kapan kubisa merahmu?

Aku Tahu dan Itu Kurang

Aku tahu
Kamu itu satu
Aku tahu
Berjumpa denganmu adalah anugerah
Aku tahu
Kamu bingung dengan segala permasalahanmu
Aku tahu
Ketika kamu bercengkerama denganku
Aku tahu
Berbicara dengamu itu penuh rencana
Aku tahu
Aku selalu memilah kalimat untukmu
Aku tahu
Kamu selalu bicara yang sama
Aku tahu
Kamu banyak membisu di dekatku
Aku tahu
Betapa sulitnya menerima caraku berdiskusi
Aku tahu
Aku selalu detail menanyakan sesuatu
Aku tahu
Kamu jarang tersenyum bila di dekatku
Aku tahu
Kalau aku tidak tahu apa isi hatimu
Aku tahu
Kemasanmu yang menyulapku untuk selalu ingin tahu lebih jauh lebih dari segala ciptaan-Nya yang ada di bumi

Kamis, 22 Mei 2014

Kalau Awalnya Tidak Gila, Seterusnya Akan Biasa-biasa Saja

Ketika membaca buku "Gurunya Manusia", buku ciptaan Bapak Munif Chatib, quote oleh Om Albert Enstein ini menjadi barisan awal yang menjadi penyemangat buat pembaca. Aku selalu berpikir keras apakah hal ini selalu dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari apa tidak. Aku calon guru, hal ini pernah aku terapkan di dalam praktik proses belajar mengajar di dalam dan atau di luar kelas, tepatnya saat apersepsi. Aku desain pembelajaran menyenangkan mungkin tetapi tidak luput dari esensi pembelajaran. Saat apersepsi aku mulai dengan menyanyi dan bergoyang. Lagu yang dinyanyikan syairnya aku ubah sesuai dengan tema dari mata pelajaran yang diajarkan. Waktu itu mata pelajaran matematika dengan tema satuan panjang untuk kelas 3 SD. Dengan gaya komunikatif anak-anak, aku berhasil menyulap inti pembelajaran matematika yang dianggap sulit bagi anak-anak menjadi menarik dan menantang. Mereka selalu bernyanyi ketika mengerjakan soal di papan tulis atau di buku. Apersepsi adalah mukadimah di mana guru memberi stimulus pada anak untuk memberikan energi dengan kekuatan super agar anak tertarik untuk belajar dari awal hingga akhir pembelajaran dan quote ini berhasil dibuktikan. 
Kembali ke awal, bahwasannya definisi gila di sini adalah untuk hal positif, bukan negatif, sedangkan untuk yang biasa-biasa saja, maksudnya kurang berkesan, itu tidak menurut pandangan para ahli, itu menurut pandanganku sendiri.  Untuk selalu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mungkin iya mungkin tidak. Semuanya penuh teka-teki, tergantung mau menggunakan prinsip quote tersebut menjadi acuan kehidupan atau tidak. 
Aku belum menemukan pandangan Om Albert sendiri tentang quote ini, karena aku hanya mengutip, tetapi setidaknya aku dan kalian bisa menafsirkan sendiri apa maknanya. Aku percaya Om Albert adalah orang yang mempunyai pemikiran lain laiknya orang-orang di sekitarnya, akan tetapi aku tidak sepenuhnya percaya, karena aku harus mencari akar dari pemikiran tersebut. 
Kalimat motivasi ini sebenarnya menggambarkan perjuangan Om Albert yang melakukan perubahan atas dirinya dan dunia. 
Selamat mencoba, karena kalimat motivasi bisa menjadi penyemangat atau hanya sekumpulan huruf yang tertulis saja.
Tuhan Yesus Memberkati

Kamis, 15 Mei 2014

GAYA KEPEMIMPINAN “BLUSUKAN” SEBAGAI PERSPEKTIF GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL



Oleh:
                                                        Yosep Heri Kristianto       

        Latar Belakang
Pemimpin “Blusukan” oleh Reza Wattimena idealnya adalah pemimpin yang menggunakan cara-cara demokratis agar permasalahan di lapangan

Jumat, 21 Maret 2014

Disfungsi Ereksi Bisa Diatasi

             Ereksi penis adalah membesar dan/atau menegangnya penis [1]. Ereksi dapat berfungsi atau tidak tergantung dari pola hidup seseorang. Erkesi tidak berfungsi dengan maksimal karena terdapat sebab musababnya salah satunya diabetes. Menurut para ahli, pengidap diabetes memiliki rata-rata 4-10 risiko disfungsi ereksi dibandingkan laki-laki tanpa diabetes. Disfungsi ereksi sendiri adalah komplikasi tersembunyi yang paling banyak dialami penderita diabetes [2].
Tampaknya terdapat perbedaan makna dalam pandangan dari para ahli bahwa penyebab terbanyak disfungsi ereksi adalah penurunan kualitas pembuluh darah yang disebabkan oleh satu atau gabungan factor, seperti diabetes, tekanan darah tinggi , dysiplidemia (kolesterol yang tinggi), kegemukan dan rokok. Gabungan rokok dengan salahs atu faktor risiko lain, seperti hipertensi, diabetes atau kolesterol tinggi akan memperhambat disfungsi ereksi atau impotensi [3].
Ereksi tidak lepas peranannya bagi seorang pria. Pria yang tidak dapat melakukan kemampuan sesksual cukup merisaukan karena berkaitan dengan harga diri, kebanggan sebagai pria jantan, rasa percaya diri serta kepuasan intimnya. Penelitian di Chicago, Amerika Serikat menunjukkan laki-laki yang didiagnosis kencing manis akan mengalami penurunan minat terhadap aktivitas seksual, mengalami ejakulasi dini, disfungsi ereksi, serta kesulitan orgasme. Tidak hanya itu, perempuan yang menderita kencing manis juga mengalami kesulitan dalam orgasme [4].
Langkah-langkah yang tepat untuk mengatasi disfungsi ereksi tersebut adalah berkonsultasi dengan dokter ahli dan atau melalui jaringan layanan kesehatan bagi seksual pria (ejakulasi dini dan impotensi), selain pria wanita juga dapat berkonsultasi [5].
Konsultasikan segera jika terdapat permasalahan terhadap penyakit yang mempengaruhi seksualitas anda, karena tanpa seksualitas hidup terasa kurang indah. Menurut para ahli, beberapa manfaat yang bisa diraih jika melakukan hubungan seksual secara regular adalah terhindar dari risiko serangan jantung dan stroke, terhindar dari risiko kanker prostat, terhindar dari risiko atrofi, serta terhindar dari depresi dan cemas [6].

                                                                    
[1] Kompas (KLASIKA) edisi Selasa, 18 Maret 2014, hal. 37
[2] Kompas (KLASIKA) edisi Selasa, 18 Maret 2014, hal. 37
[3] Kompas (KLASIKA) edisi Selasa, 18 Maret 2014, hal. 37
[4] Kompas (KLASIKA) edisi Selasa, 18 Maret 2014, hal. 37
[5] Kompas (KLASIKA) edisi Selasa, 18 Maret 2014, hal. 37
[6] Kompas (KLASIKA) edisi Selasa, 18 Maret 2014, hal. 37

Minggu, 26 Januari 2014

Mengubah Pola pikir

Sebagian besar orang Indonesia berangapan bahwa, “sehari tidak memakan nasi berarti sama saja tidak makan”. Anggapan ini secara tidak langsung membudaya dan menjadi acuan bagi setiap orang. Pola pikir tersebut sebenarnya bisa dirubah asalkan pemerintah mau turun tangan untuk terjun ke masyarakat memberi penyuluhan dan pendampingan.

Aroma Kebiasaan

Israel Utara, di mana tempat Tuhan Yesus dilahirkan, tepatnya adalah Nazareth

Kamis, 23 Januari 2014

Menciptakan Perdamaian

Mahasiswa di kampus UKSW adalah mahasiswa yang heterogen. Biasanya kami menyebutnya dengan Indonesia Mini. Dari berbagai daerah berkumpul menjadi  satu untuk belajar, berorganisasi, bertukar pendapat serta melakukan berbagai aktivitas lainnya. Untuk itu kami selalu menggunakan bahasa Indonesia di dalam melakukan aktivitas tersebut.
Selain mempermudah di dalam berkomunikasi, bahasa Indonesia juga dapat menciptakan perdamaian antarmahasiswa. Ketika mahasiswa dengan latar belakang yang berbeda-beda berselisih, komunikasi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi solusinya.
Oleh karena itu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar harus dibiasakan. Mulai dari mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Karena dengan keterampilan berbahasa, kita sudah mengurangi perselisihan antardaerah yang sering terjadi di kalangan mahasiswa. 

Belajar Mengritisi


                                                                                                                              
Mahasiswa dan buku diktat adalah sahabat yang cenderung dipaksa tetapi  tidak pernah berakhir saat hidup berkuliah. Hal ini terkait dengan tuntutan mahasiswa yang harus membaca dan mempelajari buku diktat untuk menunjang mata kuliahnya. Karena buku diktat dianggap sukar untuk mendalaminya oleh sebagian mahasiswa, sehingga mahasiswa mencari buku bacaan yang dianggap lebih menyenangkan dan mendamaikan. Munculah buku fiksi sebagai pelipur lara dari berbagai kepenatan aktivitas kampus.
Buku fiksi dapat diakses dengan mudah dengan cara on line di perpustakaan kampus. Sehingga mahasiswa banyak yang mencarinya dengan lebih praktis dan fleksibel.  Selain buku fiksi sebagai penyegar pikiran agar lebih rileks, buku tersebut dapat membuat kita untuk belajar kriitis. Ketika membaca bab per bab, kita akan menemukan alur yang menopang cerita di dalam buku fiksi tersebut. Hal ini membuat kita semakin kritis dengan menebak-nebak bahasan di bab berikutnya dari formula cerita yang ditawarkan di bab sebelumnya. Oleh sebab itu mahasiswa yang cenderung suka membaca buku fiksi cenderung lebih kritis akan sesuatu hal.


Alat Untuk Bercermin



Indonesia adalah negara merdeka yang mempunyai idealisme pokok, yaitu Pancasila. Idealisme ini tumbuh dan berkembang karena selalu dipegang teguh oleh rakyat penopang sang Sakti ini. Ketika rakyat berjuang untuk tanah airnya, idelisme ini menjadi perisai di dalam memerangi doktrinisasi para penjajah. Betapa kuatnya rakyat Indonesia dengan kesederhanaannya, tanpa ada gengsi yang melekat, hanya karena perbedaan persenjataan dan strategi. Walaupun hanya menggunakan kearifan lokal, seperti bambu runcing, tetapi dengan idelisme dan nasionalisme yang kuat, penjajah sekelas negara kincir angin dan sang matahari terbit bisa ditaklukan.
Kemerdekaan ini janganlah cepat berlalu. Dengan semakin tumbuhnya negara kita, semakin tumbuh juga semangat para rakyatnya. Kemeriahan dan kegembiraan jangan sampai terlena dengan suatu tanda kebebasan yaitu ‘merdeka’. Ini adalah awal bagi kita para penerus bangsa, awal kita untuk bertindak untuk negara ini, agar kemerdekaan bukan hanya sebagai tanda tetapi sebagai alat untuk bercermin.
Negara ini memang sudah ‘merdeka’, merdeka di dalam mempertahankan tanah air di tangan para penjajah. Perlu kita sadari, negara ini sebenarnya belum merdeka sutuhnya. Banyak tindakan amoral dan hak asasi manusia yang semakin tak ada artinya. Penjajahan terus merajalela di negeri kita, tanpa pandang bulu dari sektor mana saja. Berat untuk mempertahankan kemerdekaan ini, apalagi mengembangkan agar negara ini lebih dinamis di dalam kehidupan kenegaraannya. Korupsi, Kolusi dan nepotisme tak terhalang, tindak acah acuh juga semakin dikedepankan. Akankan gejolak badai penjajahan ini berakhir? Tidak mungkin, kalau kita sebagai anak muda hanya berdiam diri, dan menonton kekejaman batin. Karena selain faktor luar yaitu budaya asing, faktor dari dalampun ikut berperan di dalam kehancuran bangsa ini, yaitu perang saudara demi kekuasaan.

Sesuai Porsinya



Tidak dipungkiri lagi, gadget masuk dalam kehidupan manusia seutuhnya. Apalagi dalam kehidupan bermahasiswa, gadget menjadi bagian dalam kehidupannya sehari-hari. Karena di dalam kebergunaan gadget, semua dapat diakses dan didapat. Gadget membuat segalanya lebih mudah dan praktis tanpa memandang status sosial yang ada. Banyak hal positif yang didapat mahasiswa dalam menggunakan gadget,  seperti mengakses referensi-referensi tugas kuliah, mencari beasiswa dan lowongan pekerjaan dengan lebih mudah, dan banyak lainnya. Akan tetapi kebanyakan mahasiswa cenderung menggunakan fasilitas di dalam gadget untuk bermain game tanpa mengenal waktu. Mereka lebih memilih gadget yang dimiliki daripada mengikuti organisasi dan kehidupan sosial lainnya.
Saya anggap ini sebagai “penyakit” dari kaum mahasiswa. Karena dampak penggunaan gadget yang terlalu berlebihan membuat mahasiswa menjadi apatis terhadap lingkungan di sekilingnya dan cenderung individualis. Seharusnya kita dapat memanfaatkan perkembangan teknologi ini sesuai dengan porsinya.Karena gadget hanya sebagai penunjang untuk kehidupan bermahasiswa, jangan sampai kita dijajah dengan kemudahan-kemudahan yang tersedia dan tetap memperhatikan di sekeliling kita yang lebih penting. 

Membangun Jiwa Sosial Lewat Antre



Terlihat sepele, tetapi jika dilakukan membutuhkan kesabaran yang lebih. Itulah antre, aktivitas yang biasa kita lihat di sudut-sudut kampus dalam kehidupan bermahasiswa. Aktivitas ini bukan hanya sebagai aturan moril tetapi juga sebagai suatu kebudayaan. Kebiasaan ini jika dilanggar akan merugikan banyak orang disekitarnya. Tetapi tidak semua mahasiswa melakukan antre tersebut. Padahal pada umumnya mahasiswa sudah mengetahui apa itu antre, tetapi dengan tindakan acuhnya seakan-akan antre dikalahkan oleh egonya masing-masing.
Perlu kita ketahui, budaya antre selain melatih kesabaran, juga membangun jiwa sosial dengan baik antarmahasiswa yang tertib akan budaya antre tersebut. Contoh sederhananya pada pembayaran uang kuliah di Bank. Ketika mahasiswa menunggu dengan sabar dan antre sesuai urutannya, disitu mahasiswa dapat membangun sosialisasi denga mahasiswa lainnya. Dengan cara mengajak mahasiswa disekitrnya berbicara. Selain mendapatkan teman, hal tersebut memperkuat jaringan kita terhadap mahasiswa lain di lingkungan kampus. Oleh karena itu budaya antre bukan sebagai budaya yang harus dihindari tetapi sebagai peluang kita dalam kehidupan bermahasiswa dan kehidupan kita sehari-hari.

Sehat Itu Tidak Harus Mahal



Memilih makanan sehat sangat diperlukan bagi mahasiswa yang tinggal di kost. Karena dengan makanan sehat, tubuh kita akan terasa sehat dan siap menjalankan aktivitas dengan baik. Melihat keadaan mahasiswa yang mempunyai banyak agenda, seharusnya kita menjaga tubuh kita dengan baik. Memang tidak dipungkiri lagi untuk memilih makanan sehat yang notabene kita tinggal di luar rumah terasa sangat sulit. Karena berbagai godaan untuk membeli makanan yang serba enak pasti datang setiap hari. 
Secara teori, asupan gizi yang cukup berbanding lurus dengan dana yang dikeluarkan.. Akan tetapi sebagai mahasiswa seharusnya dapat lebih selektif di dalam memilih makanan yang bermanfaat bagi tubuh kita. Dengan menanak nasi sendiri serta membeli sayur di warung yang harganya terjangkau itu akan membuat badan kita terasa bugar. Kita harus mengatur jadwal dengan baik, agar tidak kehabisan sayuran di warung yang sudah dipilih. Cara tersebut biasa saya lakukan di dalam mengatur pola hidup sehat tanpa mengeluarkan biaya yang lebih banyak.

Terlihat Mudah Tetapi Sulit


Rubrik Kompas Kampus Edisi Selasa, 6 Agustus 2013



Terlihat mudah tetapi sulit, itulah bahasa Indonesia. Bukan karena bahasa Indonesia yang menjadikan sulit, tetapi kita yang menjadikan bahasa Indonesia tersa sulit. Banyak kalangan mahasiswa yang menyepelekan bahasa Indonesia, karena dirasa sebagai bahasa negara sendiri.
Kurangnya membiasakan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, membuat keberadaan bahasa ini menjadi bias. Bahkan kemampuan berbahasa asing mengungguli kemampuan di dalam berbahasa Indonesia. Seharusnya kita malu dengan negara kita. Karena tanpa kita sadari, bahasa yang dijunjung tinggi di negara Indonesia ini akan punah dengan sendirinya ketika kita menggerusnya dengan pikiran setengah sadar.
Banyak wadah yang  dapat membiasakan mahasiswa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, salah satunya dengan mengikuti kegiatan di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM). mahasiswa di LPM dituntut untuk berinteraksi sosial dan menulis berita. Kebiasaan ini akan bermanfaat untuk kita sebagai mahasiswa di masa yang akan datang.


Belajar Berharmoni


Kedua kalinya tulisanku tentang opini dimuat di rubrik Kompas Kampus Edisi Selasa, 17 September 2013 halaman 34.


            Kerap kali mahasiswa menyepelekan UKM tarik suara, yaitu UKM paduan suara mahasiswa. Padahal jika kita tahu menghayati filosofi dari paduan suara mahasiswa, kita akan belajar banyak dari UKM tersebut. Salah satunya berharmonisasi, entah di dalam esensi paduan suara itu sendiri maupun di dalam mengarungi suatu kehidupan.
           Walaupun membutuhkan banyak waktu di dalam setiap latihan, tetapi tidak ada keluh kesah bagi yang berminat dan menghayati UKM tarik suara tersebut. Personil yang dibutuhkan juga tidak harus mempunyai suara yang sangat bagus, karena suara solo yang bagus jika dipadukan belum tentu menjadi harmoni. Dalam paduan suara kita juga dapat belajar untuk rendah hati, menahan emosi, berdinamisasi antar kawan kita masing-masing disetiap tinggi rendahnya nada, serta belajar berorganisasi. Keteraturan tersebut yang akan membawa suara bersatu padu bersenandung indah. Efek keteraturan ini pastinya dapat disalurkan di acara-acara tertentu, baik dalam pelayanan maupun kompetisi. Dari situlah kita mempunyai keluarga yang akan selalu mengerti kita dalam bersatu padu.
          Oleh karena itu, jangan menyepelekan UKM tarik suara ini. Semua mahasiswa dapat belajar di UKM tersebut tanpa harus mengeluarkan biaya lebih. Cukup dengan kepercayaan diri tinggi dan mantapkan hati.

Taraaaaaaaaa!!!!!!!!!

Butiran Debu



Aku hanyalah butiran debu. Buturan debu yang tak berguna, hanya sebagai benalu di jalanan. berbentuk seperti atom, bahkan tak terlihat dan cenderung membinasakan. Barangkali, anginpun tak sudi untuk menerbangkanku hinggga menembus cakrawala. Keringnya tubuh ini, dahaga dan berkerak. Oasae yang diharapkanpun tak kunjung muncul ke permukaan. Seakan-akan dunia ini sudah tidak dapat ku pegang lagi.
Aku hanyalah butiran debu yang menyemai dunia ini. Walau tidak diundang, tetapi aku datang sebagai penyeimbang dinamika kehidupan. Bukan kehidupan yang fana, tetapi kehidupan nyata dan mempunyai arti sebenarnya. Ketika butiran debu ingin mencari sesuatu yang dapat dihinggapi dan bersemai sepanjang hidup, angin pun bergejolak untuk melarikanku. Hanya kelemahan dan kemunafikan yang kudapat. Itulah butiran debu.
Aku memang butiran debu, tetapi aku ingin menjadi sebongkah batu yang kuat dan perkasa. Aku ingin menjadi penyelamat bagi yang membutuhkan. Aku ingin menjadi dinding-dinding raksasa nan megah di pinggiran kota. Ak ingin menjadi pelindung dan pengayom kehidupan di bumi ini. Itulah mimpiku, mimpi butiran debu.

Tidak ada kata terlambat



Pancasila, Sebuah kata yang sangat fenomenal bagi bangsa Indonesia. Tidak terbayangkan sudah sekian lama Pancasila menjadi menjadi dasar negara kita. Pancasila membawa kerukunan bagi umat manusia di Indonesia. Seringkali kita ketahui bahwa apa yang terdapat dalam butir-butir Pancasila adalah pembangun manusia dan bangsa itu agar menjadi masyarakat yang bermoral dan berkarakter cerdas. Peranan Pancasila bagi bangsa ini sangat sentral karena dedikasinya memberikan animo masyarakat semakin berpegang teguh dalam suatu keindahan bermoral dan suatu kebenaran berperilaku.
Keyakinan tersebut seharusnya bukan hanya sebagai legitimasi saja, tetapi harus kita hayati dan kita amalkan. Tentunya harus dimulai dari diri kita sendiri, mau untuk berkomitmen atau tidak. Tidak ada kata terlambat untuk berbuat baik. kemudian kita transferkan energi kita untuk adik-adik yang masih duduk di sekolah dasar, karena akar pendidikan ketika anak duduk di sekolah dasar. Saya sebagai calon guru memang sudah kewajiban saya untuk memberikan pemahaman dan menjadi teladan bagi peserta didik nantinya. Intinya tidak ada kata terlambat dan jangan takut berbuat kebaikan. 

Manfaatkan koneksi



Salah satu tujuan akhir kuliah adalah bekerja untuk mencari nafkah. Akan tetapi tidak semudah membalikan telapak tangan untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan sesuai bidangnya. Bukan hanya bidang akademik saja yang harus dikuasai, tetapi soft skill harus dipunya oleh setiap mahasiswa. Banyak alternatif yang dilakukan oleh mahasiswa untuk mengembangkan diri untuk membangun professional skill dan soft skill mereka.  Selama kuliah, selain mengais ilmu dari kegiatan perkuliahan, banyak wadah untuk mengembangkan diri, salah satunya yaitu dengan mengikuti Lembaga Kemahasiswaan. Lembaga kemahasiswaan (LK) memberikan banyak pengalaman dan pembelajaran yang sangat berharga. Di LK, mahasiswa dapat berlatih kepemimpinan dan menjalin banyak koneksi.
Oleh karena itu, mahasiswa di era globalisasi ini harus pintar-pintar mencari banyak peluang untuk mengembangkan diri selama hidup bermahasiswa. LK menjadai alternatif yang menjanjikan untuk pengembangan diri dan tempat belajar mencari koneksi.  Dengan mempunyai banyak koneksi dari kegiatan berorganisasi mahasiswa lebih mudah mencari celah untuk mencari suatu pekerjaan yang diinginkan dan memperoleh pengalaman yang tidak akan terlupakan. 
 
© Copyright 2035 Yosep Heri Kristianto
Theme by Yusuf Fikri